Bendi & Friends: Chapter 1

“Bendi…cepat bangun! Sudah siang nih!” teriak Ibu dari lantai bawah memekakan telinga. Bendi beranjak dari tempat tidurnya dengan berat melihat jam weker,
“Hah…sudah jam 7?!” dalam hati Bendi terkaget. Salah satu benda di tempat tidurnya jatuh menimbulkan suara kelontang cukup keras. Bendi segera mengambil handuknya, ke kamar mandi dan berganti pakaian, bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

“Koq baru dibangunin sih, bu…” gerutu Bendi pada ibunya sambil melahap roti lapis kejunya bersama susu segar yang telah siap dari tadi.
“Eh…koq nyalahin ibu. Kau sudah besar, jadi ibu tidak perlu lagi mengurus hal-hal kecil seperti ini.” jawab Ibu lantang. Bendi hanya terdiam, tidak dapat menemukan alasan yang tepat. Secepatnya Bendi mengambil tas yang telah dipenuhi buku yang diatur asal-asalan sambil memakan roti lapis yang masih penuh di mulut.

Bendi langsung berangkat tapa berpamit. Seperti biasa, dia selalu disapa oleh tetangganya yang terbiasa dengan keributan kecil itu.
“Kesiangan lagi hah…Bendi” kata Pak Burhan bernada mengejek.
“Bagaimana dengan Budi, bukankah kita serumpun” balas Bendi.
“Budi tentunya sudah lebih awal berangkat” jawab Pak Burhan menyeringai sambil menyirami tanamannya. Tidak biasanya Budi berangkat lebih awal. Dialah teman satu-satunya yang menemani keterlambatan Bendi.
“Pasti ada sesuatu yang membuatnya begini” pikir Bendi.
Bendi pergi ke sekolahnya berjalan kaki karena jarak sekolah dan rumahnya hanya beberapa meter saja. Lonceng sekolah berbunyi keras sudah terdengar di telinga Bendi.
“Biarkan saya masuk, Pak” pinta Bendi pada penjaga sekolah.
“Hal yang sangat biasa. Kapan kau akan berubah, eh?” gerutu penjaga sekolah sambil membukakan pintu sekolah yang sudah tertutup kesekian kalinya.

“Oh kau lagi!” kata Bu Munich tak terkejut melihat kedatagan Bendi.
“Hari ini ulangan Bahasa Inggris, apa kau lupa?” celoteh Bu Munich memperhatikan Bendi yang menuju ke bangkunya.
“Baiklah, sepertinya waktu kita tepat untuk memulainya” lanjut Bu Munich.
Bendi begitu gelisah melihat soal ulangannya karena dia tidak belajar semalaman. Dia melihat Budi yang duduk di sebelahnya. Budi hanya terdiam, terpaku pada satu tujuan, soal ulangan. Sesekali dia berbisik, seakan-akan dia berbicara sendiri.

Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir.
Bendi langsung menatap bangku Budi untuk menanyakan bagaimana ulangan tadi tapi ternyata bangku itu telah kosong.
“Heh…kemana perginya anak itu? Bukankah tadi dia di sini?” pikir Bendi heran.
Dia menanyakan pada teman-teman lainnya tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan Budi. Hanya satu orang yang menjawab berbeda namun sangat singkat.
“Aku tadi melihatnya di lab fisika di belakang sekolah” Nana mengibaskan rambutnya seakan-akan dialah yang paling menarik di sekolah ini.
“Oh…terima kasih” kata Bendi.
“Bendi!” Nana memegang bahu Bendi.
“Kenapa kau begitu gelisah?” tanya Nana suaranya dimanis-maniskan.
“Tidak. Hanya saja, aku gugup menghadapi ulangan tadi” jawab Bendi sedikit berbohong, dia lebih penasaran terhadap temannya.

Segera Bendi menuju belakang sekolah tepatnya di lab fisika. Benar adanya, Budi di sana, tapi bukan di dalam lab melainkan di kolam di dekat lab. Dia sedang berbisik.
“Nah, di situ rupanya” kejut Bendi.
Budi kelabakan melihat kehadiran Bendi.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Budi.
“Sedang apa? Kau yang sedang apa? Daritadi aku mencari tapi tak kutemukan dimana-mana” balas Bendi.
“Ak…aku sedang bermain di sini” jawab Budi gagap.
“Sendirian? Kenapa kau tidak mengajakku?” tanya Bendi.
“Ah tidak, lupakan saja, ayo kita ke kantin” ajak Budi.