Good Bye Bola

19 Januari 2008, saya menerima SMS duka dari kk saya. Bola mati, ditabrak motor. Bola adalah nama anjing saya yang paling mengerti. Bola begitu mengabdi di rumah saya dan keluarga (kami-red) sejak kecil. Bola dibeli dari seorang teman ibu saya yang berasal dari Batur, yeah…Bola merupakan anjing ras Kintamani. Kala itu dipilihkan dua anak anjing yang lucu, yang satu berwarna coklat sementara yang lain berwarna hitam dengan harga yang sama yakni 350ribu rupiah. Pertama saya tertarik pada anjing berwarna coklat karena lebih lucu namun sayang anjingnya tidak selincah dan seagresif anjing yang berwarna hitam.

Anjing yang berwarna hitam selalu sibuk mencari-cari sesuatu dan tidak takut seperti anjing yang berwarna coklat. Maklum mereka kan masih balita untuk ukuran seekor anjing. Anjing yang berwarna hitam tidak takut menerima lingkungan yang baru malah dia sangat penasaran. Jadilah pilihan kami ke anjing yang berwarna hitam karena berharap nanti bisa menjadi anjing penjaga.

Walaupun anjing berwarna hitam tidak selucu anjing berwarna coklat, tetap saja lucu karena memiliki postur tubuh yang agak gemuk, jalannya pun masih kecil-kecil. Saat itu disarankan untuk memberi makanan sela tambus (ubi bakar) dan air gula setiap hari. Kami pun mencari nama yang tepat pada anjing ini, kk sayapun menamainya Bola karena psturnya yang bulat seperti bola.

Bola tumbuh kembang dengan baik, namun ada yang berbeda pada Bola, postur tubuhnya kian lama kian memanjang, moncongnya kian meruncing, yakh…tidak menyangka Bola berubah seperti ini. Yeah…namanya juga peranakan anjing Kintamani. Tapi ada yang aneh, Bola sangat mengerti akan kata-kata kami dan tidak agresif alias menyerang orang-orang asing melainkan mencari perhatian dari tamu-tamu keluarga yang datang. Sebut saja namanya, maka Bola akan menganggapmu sahabat. Bola juga tidak pernah rakus terhadap makanannya melainkan dilahap pelan-pelan mengedus dulu baru kemudian disantap sedikit demi sedikit. Bola pernah diracun entah oleh siapa tapi berkat bantuan Mbok Luh, pegawai kami, Bola bisa survive. Ada yang menarik ketika ada kawan mainnya bernama Moniq.

Moniq, anjing betina yang sebenarnya dititipkan teman adik saya guna menghindari dijadikan caru (kurban) karena warnanya yang belang bungkem (kecoklatan). Jadilah Bola memiliki teman, namun ternyata kehadiran Moniq tidak disambut baik oleh Bola karena merasa teritorinya diganggu. Selain itu Moniq adalah anjing yang lahap, hampir semenit utuk memakan satu mangkok makanan, berbanding terbalik sekali dengan Bola. Moniq lebih agresif dan lebih monyer (lebih kecewean gitu, hya iyalah anjing betina). Bola melihat adanya pesaing membuat dia marah sehingga seringkali dia yang harus pertama kali memakan makanan yang disediakan, kalau dia tidak sudi terhadap makanannya baru diberikan pada Moniq. Moniq tidak bisa melawan karena Bola cukup galak, hehe…Sampai akhirnya Moniq mati tertabrak kendaraan, wew…sedih juga tapi yang paling sedih sang pemilik Moniq sebenarnya.

Bola sendirian lagi tapi tak membuatnya kecewa, dia malah sedikit lebih lega menguasai rumah kami kembali, beuh…Bola memang anjing yang sombong, tidak suka diikat (memang dari kecil kami bebaska dia tanpa diikat, karena kalau diikat dia berontak), tidak pernah merusak barang-barang (biasanya anjing remaja suka merobek-robek sepatu kami), mengerti, pemalas dan arogan. Dia tidak suka tidak disukai karena dia akan menatap siapa saja yang menshoo (mengusir) dia, hueuheu…Dia juga pernah bertengkar dengan anjing herder, waks…tentu saja dia kalah, namun arogansinya membuat dia bersikukuh untuk berperang (alias cekak atau campah). Alhasih dia luka pada bagian pahanya sangat parah tapi sembuh dengan sendirinya.

Sampai akhirnya hari ini, Bola ditabrak motor, aneh…sudah terbiasa di jalan raya tapi bisa juga ketabrak. Yah namanya juga nasib. Selamat jalan Bola…pengabdian Bola sangat tulus dan berarti bagi kami, semoga di kehidupan mendatang Bola bisa berenkarnasi menjadi manusia xd.