Pertengkaran Antar Suku

Pada suatu waktu, ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara Suku Sakya, Beliau menghentikan pertengkaran antara dua sanak keluargaNya, yaitu Suku Sakya dan Suku Koliya.

Cerita ini dimulai ketika Suku Koliya dan Suku Sakya memperebutkan air Sungai Rohini, yang digunakan untuk mengairi ladang-ladang mereka. Air sungai ini dibendung dalam sebuah dam atau waduk yang dibangun di antara kedua kota, yaitu kota Kapilavastu dan kota Koliya.

Waktu itu Bulan Jettamula, kedua suku itu sedang menuai hasil ladang mereka. Banyak pekerja harian dikerahkan untuk menuai hasil tanaman mereka. Ketika mereka sedang menuai panen di tepi sungai itu, penduduk Koliya yang sedang bekerja, berkata:

“Apabila air sungai ini dibagi dua, tentu saja tidak cukup untuk mengairi ladang-ladang kita. Sedangkan ladang-ladang kita ini menggunakan sistem pengairan tunggal. Seharusnya, kitalah yang menguasai air sungai ini.”

Penduduk Suku Sakya yang mendengar kata-kata mereka, lalu menjawab :

“Hai, kalian jangan berkata begitu! Ladang-ladang kami juga menggunakan sistem pengairan tunggal, seharusnya kamilah yang memiliki air sungai ini.”

“Enak saja! Kami tidak akan berikan air sungai ini kepadamu!”

Lama kelamaan, pembicaraan mereka makin sengit, saling mengejek dan menjelek-jelekkan pihak lainnya sehingga timbul pertengkaran, mereka mulai saling memukul. Pekerja-pekerja yang lain mulai saling menyerang, akhirnya menjadi pertengkaran besar. Pertengkaran itu menjadi semakin buruk, karena mereka saling mengejek dan menjelek-jelekkan pihak lainnya.

Pekerja-pekerja suku Koliya berkata :

“Hai, penderita kusta! Bawa anak dan istrimu pergi dari sini! Kami tidak mau dirugikan oleh gajah, kuda dan senjata-senjata yang dimiliki orang-orang buangan miskin seperti kalian ini, yang hidup hanya di bawah pohon Jujube seperti binatang!”

Karena pertengkaran semakin sengit, akhirnya masing-masing pihak lalu melaporkan pertengkaran ini kepada pimpinan mereka, yang melaporkan lagi ke atasannya. Dan seterusnya sampai akhirnya laporan pertengkaran ini sampai ke istana Raja. Kedua pihak kerajaan ini segera menyiapkan bala tentara perangnya untuk menyerang pihak lainnya. Dengan segera Suku Sakya yang datang bersama bala tentaranya berteriak :

“Hai, orang-orang Koliya, kami akan tunjukkan kekuatan dan kekuasaan kami, yang kalian katakan kami tinggal bersama dengan saudara perempuan kami.”

Bala tentara Suku Koliya yang datang juga berteriak :

“Hai, orang-orang Sakya! Kami tidak takut! Akan kami tunjukkan kekuatan dan kekuasaan kami, meskipun kami hidup miskin di bawah pohon Jujube.”

Ketika itu Sang Buddha melihat dengan Mata BuddhaNya, mengetahui bahwa kedua sanak saudara itu ingin berperang. Beliau berpikir :

“Kalau Aku tidak pergi kepada mereka, mereka akan saling menghancurkan. Adalah tugasKu untuk menghentikan pertempuran mereka.”

Sang Buddha dengan kekuatan kesaktiannya, terbang di udara menuju tempat di mana kedua sanak keluargaNya akan bertempur. Beliau lalu duduk dengan posisi meditasi, mengambang di udara di tengah-tengah Sungai Rohini. Ketika Raja dari kedua pihak itu melihat Sang Buddha berada di udara, di tengah-tengah Sungai Rohini, dengan segera mereka membuang senjatanya dan langsung bernamaskara pada Sang Buddha, diikuti oleh seluruh bala tentaranya.

Sang Buddha bertanya :

“Apa yang kalian pertengkarkan, O Raja Mulia?”

“Kami tidak tahu, Yang Mulia.”

“Siapa yang tahu?”

“Pemimpin tentara mungkin tahu.”

Pemimpin tentara kemudian berkata :

“Raja Muda mungkin tahu.”

Sang Buddha bertanya pada pimpinan dari kedua pihak itu, satu demi satu, akhirnya sampailah kepada pekerja harian. Pekerja harian itu menjawab :

“Pertengkaran ini hanya karena air sungai Rohini, Yang Mulia.”

Kemudian Sang Buddha bertanya pada kedua Raja itu :

“Berapakah nilai air sungai itu, Raja Mulia?”

“Sangat kecil nilainya, Yang Mulia.”

“Berapa besarkah nilai Khattiya (Negeri) ini, Raja Mulia?”

“Khattiya ini tidak ternilai, Yang Mulia.”

“Bukanlah hal yang baik dan pantas apabila hanya karena air yang sedikit ini kalian menghancurkan Khattiya yang tidak ternilai ini.”

Kedua pihak itu diam seribu bahasa. Sang Buddha berkata lagi :

“O, Raja Mulia, mengapa kalian bertindak seperti ini? Apabila saya tidak ada di sini sekarang, kalian akan bertempur, membuat sungai ini berlimbah darah. Kalian tidak pantas bertindak demikian. Kalian hidup bermusuhan, menuruti hati yang diliputi lima jenis nafsu kebencian. Saya hidup bebas dari kebencian. Kalian hidup menderita karena sakit yang disebabkan oleh nafsu kejahatan. Saya hidup bebas dari penyakit. Kalian hidup dipenuhi keinginan, dengan memuaskan lima jenis hawa nafsu keserakahan. Saya hidup bebas dari segala nafsu keserakahan.”

Setelah bersabda demikian, Sang Buddha mengucapkan syair-syair ini :

“Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci, di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci.”

(Dhammapada, Sukha Vagga no. 1)

“Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit kita hidup tanpa penyakit.”

(Dhammapada, Sukha Vagga no. 2)

“Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah, di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan.”

(Dhammapada, Sukha Vagga no. 3)

Setelah mendengar sabda-sabda Sang Buddha, kedua belah pihak merasa malu dengan apa yang mereka lakukan. Akhirnya kedua sanak keluarga itu berdamai, membagi air Sungai Rohini itu dengan adil, untuk mengairi ladang kedua belah pihak. Mereka lalu hidup berdampingan dengan damai, karena kebencian dan iri hati sudah lenyap dari hati mereka.

Khotbah Api

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Gayā, di tempat tinggal pemimpin Gayā bersama dengan seribu bhikkhu. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

“Para bhikkhu, segalanya terbakar. Dan apakah, para bhikkhu, segalanya yang terbakar itu? Mata terbakar, bentuk-bentuk terbakar, kesadaran-mata terbakar, kontak-mata terbakar, dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan – itu juga terbakar. Terbakar oleh apakah? Terbakar oleh api nafsu, oleh api kebencian, oleh api kebodohan; terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan, Aku katakan.

“Telinga terbakar … Pikiran terbakar … dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan – itu juga terbakar. Terbakar oleh apakah? Terbakar oleh api nafsu, oleh api kebencian, oleh api kebodohan; terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan, Aku katakan.

“Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terlatih mengalami kejijikan terhadap mata, terhadap bentuk-bentuk, terhadap kesadaran-mata, terhadap kontak-mata, terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan; mengalami kejijikan terhadap telinga … terhadap pikiran … terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi … Mengalami kejijikan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan maka [batinnya] terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kondisi bagi makhluk ini.’”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Senang, para bhikkhu itu gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā. Dan ketika khotbah ini disampaikan, batin seribu bhikkhu itu terbebaskan dari noda-noda melalui ketidakmelekatan.