[Hindu] Sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?

Image

Pertanyaan Yudistira menjelang kematian Bhisma

Dalam keadaan luka-luka terkena puluhan anak panah Srikandi, Resi Bhisma bertahan menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira, sulung Pandawa bertanya, “Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?”

Resi Bhisma menjelaskan, “Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma dan segala yang mengakhiri Adharma adalah Dharma. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian.”

Pertanyaan selanjutnya, “Kemudian yang menetapkan mana yang Dharma dan mana yang Adharma itu siapa? Bukankah bisa disalah gunakan mereka yang mempunyai ‘interest’, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu terhadap politik dan kekuasaan?”

Resi Bhisma menjelaskan, “Untuk menentukan mana Dharma dan mana Adharma, satu-satunya kesaksian yang dibutuhkan adalah kesaksian diri pribadi, kesaksian hati nurani. Hanya orang yang sadar dan percaya secara tulus terhadap kebenaran yang dapat menentukan. Dasar awal perjuangan adalah landasan spiritual, bukan kepentingan keduniawian.”

Bagi Pandawa dengan tuntunan Sri Krishna, berperang melawan Korawa adalah dharma. Bagi Bhisma mempersatukan Ibu Pertiwinya, Hastina adalah dharma, yang akan dipersembahkannya kepada Gusti Yang Maha kuasa sampai nyawanya dicabut di dunia.

Pertanyaan Drupadi menjelang kematian Bhisma

Bhisma tidak peduli pandangan dari luar, bahkan pada saat Drupadi, istri Pandawa protes dengan menangis terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma kepada Yudistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu aku, Drupadi, dipermalukan Korawa, Kakek diam seribu bahasa”.

Bhisma tidak mengatakan bahwa dia tahu Drupadi akan diselamatkan Sri Krishna dan keajaiban yang terjadi diharapkan Bhisma untuk menyadarkan para Korawa. Tidak, dia tidak berkata demikian, akan tetapi Bhisma menjelaskan secara teknis agar mereka yang merubungnya mendapatkan pengetahuan yang mungkin belum diketahui mereka.

Bhisma berkata:”Cucuku Drupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan hatimu. Selain menunggu posisi matahari yang masih bergerak ke arah selatan sampai tiba waktunya berbalik ke arah utara, dan menunggu konstelasi matahari dan bulan yang paling harmonis, saya juga menunggu waktu enam bulan agar seluruh sel tubuhku berganti. Cucuku, kira-kira enam bulan yang lalu, aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh makanan membuat aku tak berdaya. Darah yang keluar dari anak-anak panah yang menembus diriku, membuatku lebih tenang, selama ini darah yang diproduksi organ tubuh yang tercemar makanan itulah yang membuat aku tak berdaya. Maafkan aku Drupadi”.

Bhisma sepenuhnya sadar bahwa apa pun yang terjadi memang harus demikian. Dirinya bukanlah tubuh fisik, dirinya menghuni tubuh fisik, dan sudah tiba waktunya bagi dirinya untuk meninggalkan tubuh fisik. Bhisma sudah tidak punya keinginan apa pun juga. Hanya karena Yudistira bertanya, dan hanya karena Drupadi ingin mengetahui permasalahan, dia menjelaskan.

Bhisma yang terpanah oleh Srikandi, paham dia tidak akan sembuh. Hutang kematian Dewi Amba telah terbalaskan oleh Srikandi. Akan tetapi dia tetap sadar, bahwa setiap keluhan, kekecewaan yang terbersit dalam pikiran menjelang kematian akan mengakibatkan adanya obsesi yang akan membuatnya lahir kembali. Itulah sebabnya hampir semua kepercayaan mengingatkan untuk menyebut Gusti pada akhir hayat. Setiap saat Bhisma hanya mengingat Sri Krishna, yang menurut keyakinannya adalah perwujudan Ilahi yang lahir ke dunia. Kedatangan Sri Krishna bersama Pandawa membesarkan hatinya. Bhisma pasrah dengan keadaannya, menunggu saat yang amat mulia untuk meninggalkan jasad sambil terus memperhatikan Sri Krishna.

Ketika posisi matahari dan bulan harmonis yaitu pada tanggal 14 Januari 3.000 SM, Bhisma menghembuskan nafas terakhir dengan sebuah senyuman di bibirnya. “Gusti, aku kembali ke sangkan paraning dumadi.” Sri Krishna menutup mata Bhisma dan menyuruh Pandawa mempersiapkan upacara penghormatan terakhir.

dikutip dari sumber